Friday, May 30, 2008

Koridor 9 segera beroperasi

Tiga koridor busway baru bus Transjakarta akan segera dioperasikan. Rencananya, tiga koridor masing-masing Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni), Koridor IX (Pinang Ranti-Pluit), dan Koridor X (Cililitan-Tanjung Priok), akan beroperasi Juni 2008 mendatang. Pengoperasian tiga koridor baru itu juga dibarengi dengan peluncuran bus gandeng.

"Bulan Juni nanti, tiga koridor busway termasuk bus gandengnya akan dioperasikan," kata Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, saat rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, Kamis (29/5).

Keberadaan bus gandeng itu, kata Fauzi, sangat diperlukan. Sebab, berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa koridor yang memerlukan daya angkut yang lebih banyak, sehingga diperlukan bus gandeng yang memungkinkan dapat memenuhi keinginan masyarakat.

Meski demikian, ungkap Fauzi, tentu ada beberapa masalah lain yang mengakibatkan operasional busway terganggu. Diantaranya, masih terbatasnya jumlah stasiun bahan bakar gas (SPBBG), serta belum lancarnya pendistribusian gas ke SPBBG. "Untuk pengendalian pencemaran udara, kita serius untuk menggunakan bus berbahan bakar gas," katanya. "Tapi masalahnya pendistribusian gas dan tempat pengisiannya masih minim," ungkapnya.

Busway, ujar Fauzi, merupakan salah satu program Pemprov DKI untuk mengatasi kemacetan yang diakibatkan karena tidak seimbangnya jumlah pertumbuhan kendaraan dengan pertumbuhan jalan.

Apalagi berdasarkan hasil survei, lanjut Fauzi, jumlah mobil baru yang masuk ke Jakarta setiap hari mencapai 320 unit dan sepeda motor mencapai 1.707 unit. "Itu adalah kendaraan baru yang dibeli masyarakat setiap hari. Dan tentunya mereka menggunakan jalan di Jakarta," ujarnya.

Mantan Wagub DKI ini memaparkan minat warga Ibukota terhadap bus Transjakarta cukup besar. Buktinya, sepanjang tahun 2007, pengguna busway tercatat sekitar 61 juta penumpang. Tahun ini dengan penambahan jumlah koridor dan armadanya, diharapkan penggunanya akan lebih banyak lagi. "Jumlah penumpangnya cukup banyak, padahal jumlah koridornya baru tujuh dan total panjang koridornya belum mencapai 100 kilometer," tukasnya. "Busway ini merupakan alternatif yang sangat efektif untuk mengendalikan kemacetan di Jakarta. Dan nantinya akan lebih sempurna lagi jika monorail dan subway juga beroperasi," pungkasnya.

Rapat dengar pendapat Pemprov DKI dengan Komisi V DPR RI yang dipimpin Muqoan dari Fraksi Partai Persatuan Pembanguan (PPP) berjalan lancar. Dan hasil rapat menyimpulkan bahwa Komisi V mendukung Pemda DKI mengembangkan dan meningkatkan pola transportasi seuai dengan ketentuan. Dan sepakat untuk mempercepat penyediaan sarana pengisian bahan bakar gas.

Read More...

Saturday, April 5, 2008

September harus mulai beroperasi

Koridor 8-10 siap beroperasi September 2008. Koridor bus transjakarta ini akan menggunakan 87 bus hasil lelang koridor 4 - 7 sehingga masyarakat pengguna jasa transportasi massal ini dapat segera menikmatinya.

Gubernur Fauzi Bowo mengungkapkan kemarin sore, Kepala Dinas Perhubungan DKI Nurachman juga menyatakan. ”Asalkan disetujui gubernur, pengoperasian koridor 8-10 dapat dimulai September nanti.”
Fauzi Bowo mengatakan, ”Kita pecat rame-rame Pak Nurachman (Kepala Dinas Perhubungan).” atas pertanyaan wartawan jika nanti molor dari September,

Menurut Fauzi Bowo persoalan bus transjakarta harus ditangani dengan serius, ”jika koridor 8-10 selesai dibangun Juli, tetapi ternyata busnya belum ada, ini cara kerja yang tidak bertanggung jawab dan tanpa perencanaan matang.”

Fauzi ingin ada solusi agar kebutuhan masyarakat ini terpenuhi. Dia setuju sebagian dari 87 bus untuk koridor lain digunakan koridor 8-10, sambil menunggu bus baru hasil lelang selesai seluruhnya. Fauzi percaya bus-bus baru dapat beroperasi akhir tahun ini.

Dari 23 bus gandeng yang digunakan untuk jarak panjang, 10 bus gandeng di antaranya siap dioperasikan Juni ini untuk koridor yang selesai. Mengani pasokan bahan bakar gas (BBG) untuk bus transjakarta, Fauzi mengatakan, perlu dicari terobosan agar tak terbuang sia-sia waktu bus transjakarta saat mengisi BBG. Ada empty trip selama tiga jam dari 17 jam waktu bus transjakarta beroperasi setiap hari. Ini akibat dari jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas yang terbatas, hanya tiga. [dari Kompas]

Read More...

Monday, March 31, 2008

Terganggu sengketa tanah

Pembangunan yang dilakukan di koridor-9 belum seluruhnya selesai. Halte busway Pluit yang terletak didepan Mega Mall Pluit jalan Pluit timur raya, masih jauh dari tahap penyelesaian.

"Untuk halte kedatangan di belakang Mega Mall Pluit arah penjaringan sudah hampir selesai tetapi untuk halte pemberangkatan arah Ancol, baru kami mulai minggu lalu karena terganggu permasalahan sengketa tanah," ujar Udin, 33, salah seorang pekerja halte busway Pluit kepada Media Indonesia.

"Setelah permasalahan sengketa tanah itu diselesaikan, kami baru bisa mengerjakan halte ini itupun masih dalam tahap pembangunan konstruksi beton dan pengelasan," tambah Udin.

Read More...

Friday, March 28, 2008

Koridor 8-10 belum bisa dipastikan

Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta belum dapat memastikan kapan busway koridor VIII, IX, dan X dapat dioperasikan. Salah satu penyebabnya, menurut Kepala Dishub DKI Jakarta, Nurachman adalah belum tersedianya armada Transjakarta untuk melayani penumpang di tiga koridor tersebut.

“Meski pengerjaan jalurnya telah rampung, dan saat ini kita tengah melakukan pekerjaan pembangunan halte dan JPO yang ditargetkan selesai Juni, tapi kita belum bisa memastikan kapan tiga koridor busway itu dioperasikan,” ungkap Nurachman, Selasa (25/3).

Nurachman mengatakan, walaupun armada dari koridor lainnya dapat dialihkan ke koridor VIII hingga X, namun tetap tidak mencukupi. "Jumlah armada belum mencukupi, walau kita telah menambah armada dengan mengadakan lelang sebanyak 87 bus untuk koridor IV hingga VII beberapa bulan lalu," ungkapnya.

Ia mengakui, dengan menggunakan bus pinjaman, jumlahnya masih jauh dari ideal. Untuk tahap awal, koridor 8-10 membutuhkan 67 unit bus. 25 bus di koridor-8, 10 bus di koridor-9, 32 bus di koridor-10.

Armada yang dipinjam adalah armada cadangan yang hanya berjumlah 29 bus. 10 bus dari koridor-1, 12 dari koridor 2-3, satu bus dari koridor-4, enam bus dari koridor 5-7.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Pengendalian Badan Layanan Umum Transjakarta Rene Nunumete mengusulkan agar 87 unit bus baru yang rencananya akan memperkuat koridor 4-7, digunakan terlebih dahulu untuk melayani koridor 8-10.  Telah diberitakan sebelumnya bahwa lelang 87 bus telah dimenangkan oleh PT Primajasa dan PT Lorena. [dari BeritaJakarta dan Media Indonesia]

Read More...

Jembatan penyeberangan mulai dibangun

Grogol 

Hari ini mulai jam 23.00 hingga Sabtu jam 05.00 lalu lintas di Jalan Latumenten, sekitar halte busway Stasiun Grogol, Jakarta Barat akan ditutup. Di kawasan tersebut akan dilakukan pemasangan erection gelagar jembatan penyeberangan unyuk busway koridor 9 (Pinangranti-Pluit).

Lalulintas dari arah Pluit menuju Cawang dialihkan dari Latumenten melalui Jl DR Muwardi masuk ke Jl DR Makaliwe, dan kembali ke Jl Latumenten. Lalu lintas dari Cawang menuju Pluit diarahkan melalui Jl Latumenten masuk contra flow ke Jl DR Makaliwe lalu melewati putaran dan kembali ke Jl Latumenten.

Pengguna jalan dihimbau untuk menghindari jalan tersebut pada saat pelaksanaan pekerjaan.

Read More...

Monday, March 24, 2008

Rusak sebelum berguna

Menurut Kepala Seksi Struktur Jalan Sub Dinas Jalan DPU DKI Jakarta, Hasmil HS Sasrie, perbaikan koridor IX dilaksanakan oleh PT Jaya Konstruksi MP dan PT Lampiri Jaya Abadi-JO.

Perbaikan di 13 lokasi yang mencapai 5.013,16 meter persegi diantaranya Jl Gatot Subroto depan Menara Jamsostek 958,60 meter persegi, depan Hero 560 meter persegi, seberang depan Menara Hijau sebelum stasiun KA Cawang 27,30 meter persegi. [dari beritajakarta.com]

Read More...

Friday, March 14, 2008

Dana Busway dikembalikan ke APBD

Meski belum selesai dibahas di Departemen Dalam Negeri (Depdagri), sejumlah poin perubahan dalam APBD DKI Jakarta 2008 telah mencuat.

Salah satunya adalah anggaran penyelesaian busway koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni), IX (Pinang Ranti-Pluit) dan X (Cililitan-Tanjung Priok) yang dipotong Rp158 miliar oleh DPRD, dikembalikan menjadi Rp354 miliar sesuai usulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Dana busway itu adalah salah satu dari ribuan item yang diputuskan untuk tidak jadi dicoret oleh Depdagri. "Totalnya (anggaran yang dikembalikan) sekitar Rp1,2 triliun. Sebagian besar itu dedicated program (program prioritas) yang mencapai Rp800 miliar," kata Asisten Keuangan Pemprov DKI Jakarta Hari Sandjojo di Balai Kota, Jumat (14/3).

Total anggaran untuk dedicated program mencapai Rp3,52 triliun. Beberapa item lain yang juga dikembalikan karena dinilai penting dan tidak patut dicoret antara lain subsidi Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta sebesar Rp263 miliar (sebelumnya dipangkas Rp63 miliar), pembebasan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) senilai Rp52,87 miliar, Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) SMA dan SMK swasta senilai Rp157,7 miliar (sebelumnya dicoret), serta sistem lelang online (e-procurement).

"Ini adalah hasil pembicaraan Pemprov DKI dengan DPRD yang difasilitasi Depdagri. Anggaran-anggaran itu dikembalikan karena untuk kepentingan publik," jelas Hari.

Sebagian dari kebutuhan anggaran yang dikembalikan itu diambil dari tambahan anggaran pendapatan yang disusulkan Pemprov DKI berdasarkan asumsi penerimaan pajak dan retribusi sebesar Rp500 miliar. "Jadi tidak ada alokasi-alokasi lain yang dipotong-potong lagi. Diminimalisir," imbuhnya.

Sekretaris Komisi B DPRD DKI Nurmansjah Lubis kepada Media Indonesia mengakui akhirnya menerima sejumlah alokasi itu dikembalikan. "Ya kita ikuti, Gubernur ingin agar program busway koridor VIII, IX, X tidak mubazir, jadi harus diselesaikan karena menyangkut kepentingan publik," ujar politisi PKS yang sebelum bersikeras sejumlah anggaran dedicated program harus dibatalkan.

Lebih lanjt Hari mengatakan, tenggat pembahasan APBD DKI 2008 adalah 24 Maret 2008. "Tapi kita akan kejar sebelum itu. Jikapun turun pada 24 Maret, satu minggu setelahnya, pencairan sudah bisa jalan, itupun jika tidak ada perubahan atau catatan dari Depdagri," pungkasnya. [Media Indonesia - Depdagri Kembalikan Dana Busway ke APBD - Reporter : Bagus BT. Saragih]

Read More...

Sunday, January 27, 2008

Halte Angke

Saya tinggal di daerah yang akan dilalui Koridor IX Pinang Ranti - Pluit.
Dan saya lihat sudah ada aktivitas pembangunan halte. Yang saya cermati, selepas Grogol, Jalan Latumeten, sudah disiapkan jalur busway, melewati jalan layang, tanpa seperator, melewati perempatan Angke.
Akan tetapi, sedang dibangun pula halte busway di kolong jalan layang tersebut, dengan nama Halte Angke.
Hmm....?
Apakah halte ini akan dibangun setinggi jalan layang tersebut, di mana jalan layang ini tidak diberi seperator busway ? [sunarto rusli di suaratransjkarta]

Read More...

Tuesday, January 15, 2008

Duh separator

Satu lagi korban separator busway.  Di jalan Gatot Subroto dekat lampu merah Slipi, pukul 17.40  Senin  kemarin, Irwono tewas dihajar bus Mayasari Bakti setelah terpental akibat menghajar separator busway.

Pengendara motor bernopol B 4860 FS ini  melaju dari arah Grogol menuju Semanggi, di depan Jakarta Design Center melindas separator busway. Irwono pun terpental dan ditabrak bus Mayasari Bakti P6, meninggal seketika di lokasi kejadian.

Bus Mayasari Bakti kabur, bisa dihentikan masyarakat di depan Kantor BPK. Namun sopir sudah melarikan diri. [sumber: detikcom]

Read More...

Friday, January 4, 2008

Ah separator

Seorang pengendara motor mengalami kecelakaan karena menabrak separator busway saat melintas di Jalan MT Haryono. Peristiwa terjadi tepat di depan Rumah Sakit (RS) Tebet arah Cawang, Jakarta Timur. Ketika itu korban mengendarai motor bernopol B-4270-MK dalam keadaan cepat dan tak mengetahui keberadaan separator busway sehingga tak sempat menghindar.

Warga Tanjung Sayang RT 04/RW 08, Kramat Jati, Jakarta Timur itu pun akhirnya menabrak separator busway dan terjatuh dari motornya. Korban yang mengalami luka parah kemudian dilarikan ke RS Tebet, Jakarta Selatan, sedangkan motor yang dikemudikannya dibawa ke Unit Laka Ditlantas Polda Metro Jaya. (bachtiar - Sinar Harapan)

Read More...

Tuesday, December 18, 2007

Uh separator...

Sebuah mobil Kijang Grand Extra nomor polisi B-7311-CJ, Selasa (18/12) dini hari, terbalik setelah menabrak separator busway di Jalan M T Haryono, Jakarta Selatan, tepatnya di depan kantor Departemen Kelautan dan Perikanan.
Tak ada korban jiwa, namun seorang bocah bernama Gerard Christian (5) yang berada di dalam mobil naas itu, terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Tebet karena menderita luka robek di bagian lengannya.

Fitner Sinaga (47), pengemudi kendaraan mengatakan, saat peristiwa berlangsung, dirinya beserta istri dan ketiga anaknya bermaksud pulang ke tempat tinggal mereka di kawasan Ciledug, Tangerang, setelah mengunjungi kerabat di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

“Kami baru saja mengunjungi rumah keluarga istri saya di Tanjung Priok. Karena situasi hujan, saat keluar dari pintu Tol Pancoran, saya tidak melihat ada pembatas busway di jalan itu. Terlebih tak ada rambu yang memberitahukan ada busway di jalan itu,” ujar guru matematika yang mengaku jarang melintasi jalan di sekitar lokasi ini.
Namun, tambahnya, keluarganya tidak mengalami luka parah, hanya anak bungsunya terkena pecahan kaca.

Peristiwa itu sempat membuat arus lalu lintas di lokasi mengalami kemacetan panjang, sebelum akhirnya petugas Laka Lantas Polda Metro Jaya yang datang ke lokasi berhasil mengevakuasi kendaraan korban ke Unit Laka Lantas di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan. (bachtiar)

Read More...

Saturday, December 15, 2007

Baut pembawa maut

Separator yang dipasangi baut di koridor 8-10, harus diganti dengan model yang lebih kuat tanpa baut. Separator berbaut mudah rusak begitu disenggol roda kendaraan, bautnya yang menonjol bisa merobek roda dan membahayakan pengendaranya.

”Harus diganti dengan model lama, yang sudah terbukti lebih kuat. Separator baru yang dipasang dengan cara dibaut seperti itu, kalau sekadar untuk bereksperimen boleh saja, tetapi jangan dipakai,” kata Direktur Eksekutif Institut Transportasi atau Intrans Jakarta, Darmaningtyas, pada Kompas Sabtu (15/12).

Separator koridor 1-7 jika terlindas roda kendaraan tidak pecah, tidak mudah tercabut. Sepatator model baru di koridor 8-10 lebih lunak sehingga mudah hancur. Dipasang dengan cara dibaut ke beton lajur busway.

Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemprov DKI Jakarta, Budi Widiantoro mengakui separator itu cepat rusak karena belum cukup umur untuk dipasang. Kontraktornya terburu-buru. Seharusnya separator dipasang 28 hari setelah dicor. Seluruh separator yang rusak itu akan diperbaiki dengan cara dicor di tempat. Juga dipasang alat pengaman agar separator tidak sampai terlindas atau tersenggol kendaraan.

Read More...

Wednesday, December 12, 2007

Tidak ada tanda...

Separator busway berbaut di sejumlah jalur busway membahayakan pengendara terutama motor. Rabu (12/12/2007) pagi ini saja sudah 6 kendaraan yang mengalami kecelakaan akibat separator busway berbaut.

Traffic Management Centre (TMC) Ditlantas Polda Metro Jaya mengingatkan kepada para pengendara agar mewaspdai seperator busway berbaut ini. Sebab separator ini tidak memiliki rambu pengaman.

"Pagi tadi sudah ada 6 korban kendaraan yang mengalami kecelakaan. Salah satunya di depan Hotel Sultan yang mengarah Slipi," kata Bripka Ogan.

Separator busway yang mengunakan baut itu menyebabkan banyak kendaraan terjatuh. Selain itu, baut di separator busway membuat ban bocor.

Separator busway yang mengunakan baut antara lain berada di Jalan Gatot Subroto depan Hotel Sultan, depan Mal Arta Gading, Plumpang, di Jalan S Parman dari Slipi menuju Tomang dan di depan Polres Jakbar menuju ke arah Semanggi.

Read More...

Friday, December 7, 2007

Karena tidak diantisipasi

Busway Koridor IX dan X Rusak Sebelum Digunakan

Kondisi prasarana jalur khusus bus transjakarta (busway) di Koridor IX dan X saat ini sudah rusak sebelum pekerjaan proyek rampung, atau sebelum diresmikan penggunaannya. Bagian yang rusak itu antara lain separator dan juga badan jalan jalur khusus bus yang telah dibentangi aspal.

Kepala Subdinas Jalan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sukendar, ketika dihubungi, Kamis (6/12), membenarkan adanya persoalan itu. Dia mengaku sempat terkejut ketika melihat sendiri fakta itu. "Tetapi akan kami perbaiki segera. Saya segera berkoordinasi dengan pihak kontraktor pelaksana," katanya.

Dari pengamatan di lapangan, hampir semua separator di ruas Tomang menuju Slipi hancur berantakan. Tampaknya beton yang dipasang sebagai separator itu tidak kuat sehingga begitu tersenggol bus dan truk, bahkan minibus, langsung pecah berderai. Tinggal baut-baut yang menonjol di jalan beraspal beton itu.

Sukendar mengakui sudah melihat kondisi lapangannya dan memang ada kerusakan separator. Separator yang terpasang di sepanjang Koridor IX Pinang Ranti-Pluit itu terdiri atas dua jenis, yakni yang ditanam serta yang dibor dan dibaut seperti di ruas Tomang-Slipi.

Separator jenis kedua ini, kata Sukendar, memang hanya dipasang di ruas jalan reguler yang telah dibentangi beton. Pada ruas seperti itu, jalur bus transjakarta tidak perlu dibangun baru, hanya diberi pembatas atau separator yang dibaut dengan paku baja sebab tidak mungkin membongkar beton lama untuk dipasangi separator. Ternyata, di luar dugaan, separator itu cepat hancur ketika tersenggol kendaraan.

Kompas juga mengamati, ruas bus transjakarta di Koridor X pun sudah terancam retak-retak, terutama di sepanjang Jalan Yos Sudarso dan sebagian Jalan Enggano. Hal itu terjadi karena dua minggu setelah dipasangi beton, ruas tersebut langsung dilalui trailer dan angkutan berat lainnya. Padahal, kapasitas jalan itu untuk bus transjakarta.
(CAL/ECA)
Jakarta, Kompas

Read More...

Thursday, November 29, 2007

Safety First?

Separator busway koridor IX Pinang Ranti-Pluit di sepanjang Jl Gatot Subroto (Gatsu) tampak rendah, sehingga mudah dilindas maupun dilintasi pengendara. Tapi hati-hati! Ternyata separatornya berpaku.

Biasanya, separator busway yang menggunakan beton cukup tinggi sekitar 20-25 cm sehingga terlihat oleh pengendara. Nah, separator yang berada di Jl Gatot Subroto, tepatnya di depan Gedung DPR, beton separator hanya setinggi sekitar 10 cm.

Kalau meleng, pengendara bisa saja tidak waspada terhadap separator tipis ini. Padahal kalau sampai ban kendaraan melindas separator ini, dijamin tersangkut.

Sebab sejumlah besi mur dipasang berjejer dan menonjol pada beton separator. Kondisi ini tentu berbahaya bagi kendaraan bermotor yang melintasi jalur busway dan hendak keluar ke jalur arteri maupun sebaliknya.

"Kalau ban kendaraan kena, itu bisa robek dan bocor. Kalau dipaksakan, bisa timbul korban dan luka cukup parah," kata seorang pengojek yang biasa mangkal di Gedung DPR, Parno, Jakarta, Kamis (29/11/2007).

Menurut Parno, tonjolan paku dan mur yang ada di separator itu baru terlihat hari ini. Paku dan mur itu pun sangat berbahaya bagi kendaraan yang di jalur busway dan sulit untuk masuk ke jalur umum karena susunan betonnya begitu rapat.

"Kemarin belum ada. Mereka mengerjakannya tadi malam. Kalau siang berhenti kerja supaya nggak macet," ujarnya.

Sementara Jenna yang semalam melintasi depan Gedung DPR dengan mobil mengaku sempat kaget saat menyadari ada separator busway berpaku.

"Wah, nyaris ngelindes, soalnya separatornya tipis, nyaris nggak keliatan karena warnanya nggak mencolok. Untung saja nggak ngelindes, ternyata ada paku-pakunya berjejer. Kalau sampai kena, waduh apes banget, malam-malam pula soalnya," curhatnya.

Pantauan detikcom Kamis pukul 10.00 WIB, panjang besi mur yang menonjol itu sekitar 2 cm. Setiap 1 blok beton terdapat 3 besi mur. Banyaknya besi mur yang menonjol itu mulai dari separator Jl Gatot Subroto lewat Semanggi sampai di depan Gedung DPR.

Di sepanjang jalur busway pun tidak terdapat peringatan bagi kendaraan bermotor untuk berhati-hati masuk di jalur busway dan keluar dari separator. Sedangkan kendaraan bermotor masih bebas masuk melintasi jalur busway tersebut. Polisi pun tidak tampak di sepanjang jalur.

Read More...

Thursday, November 1, 2007

Ruas-ruas mixed-traffic


1. Pondokgede - Terminal Pondokgede hingga Jl Raya Bogor Pasar Hek
2. Jl Raya Bogor - Pasar Hek hingga Cililitan/PGC
3. Jl MT Haryono - Cawang Interchange hingga Cawang Kompor (dua sisi)
4. Fly-over Pancoran sisi utara
5. Jl Gatot Subroto - samping fly-over Kuningan sisi utara
6. Jl S Parman - depan JDC
7. Jl S Parman - depan Slipi Jaya
8. Jl S Parman - depan RS Harapan Kita
9. Jl S Parman - depan Mall Taman Anggrek
10. Jl S Parman - depan eks Walikota Jakbar hingga Simpang Tomang
11. Jl Latumenten - fly-over Grogol (sisi timur)
12. Jl Latumenten - fly-over Jembatan Dua
13. Jl Latumenten - fly-over Jembatan Tiga
14. Jl Pluit Indah
15. Jl Pluit Barat
16. Jl Pluit Timur

Read More...

Monday, October 22, 2007

Setelah Lebaran macet lagi

Hari Ini, Jalan-jalan di Jakarta Kembali Jadi "Neraka"

mulyawan karim

Setelah sepekan relatif sepi dan nyaman dilintasi, mulai hari ini lalu-lintas di Ibu Kota dapat dipastikan akan kembali padat. Kenikmatan berkendara selama lebih dari seminggu saat libur Lebaran, berakhir sudah. Wajah Jakarta akan kembali seperti semula.

Minggu (21/10) malam, di Jalan Panjang, dekat persimpangan Jalan Kebayoran Lama, di ruas jalan arah Kedoya, Jakarta Barat, belasan pekerja tampak sibuk menyiapkan pengecoran jalur khusus bus transjakarta. Di ujung ruas jalan itu berdiri panel papan peringatan: "Hati-hati, Ada Pembangunan Busway".

Setiap pengendara sepeda motor atau mobil memang harus berhati-hati, kalau tak mau menabrak papan pembatas pengecoran yang tiba-tiba muncul di tengah jalan itu.

Setidaknya ada empat titik di sepanjang Jalan Panjang, lokasi dilaksanakannya kembali proyek pembangunan busway mulai Minggu (21/10). Kesibukan serupa juga terlihat di Jalan Layang Putri Hijau, Permata Hijau, di ruas arah Jalan Sultan Iskandar Muda. Dua lokasi lain ada di daerah Kedoya.

"Panjang jalur busway yang sedang dikerjakan di masing-masing lokasi 150 meter-200 meter. Pengecoran di semua lokasi rencananya akan dilakukan malam ini," kata Heri Kuswoyo (34), petugas PT Yasa Patria Perkasa, kontarktor pembangunan jalur busway itu, saat ditemui di lokssi proyek di simpang Jalan Panjang-Jalan Kebayoran Lama, Minggu malam.

Kegiatan pembangunan ini membuat ruas jalan yang sehari sebelumnya terdiri atas tiga lajur, sejak kemarin menyempit menjadi hanya dua lajur. Hailnya, kemacetan panjang di beberapa tempat di Jalan Panjang.

Padahal volume kendaraan yang melintas belum seperti hari-hari sebelum Lebaran lalu. Ruas jalan itu hanya dilalui kendaran umum serta mobil dan sepeda motor pemudik yang baru masuk lagi ke Ibu Kota dari arah barat.

Bisa dibayangkan kondisi lalu-lintas hari ini di jalan itu. Padahal tanpa pembangunan jalur busway pun sudah biasanya sudah biasa macet.

Makin parah

Pembagunan jalur busway Koridor 8 (Lebak Bulus-Harmoni) itu, sebenarnya hanya menyempurnakan kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas yang sudah terjadi di Jakarta sejak sekitar sebulan terakhir, sejak dimulainya pembangunan tiga koridor jalur busway secara simultan di berbagai bagian kota. Jalan Panjang pun sudah berminggu-minggu selalu dilanda kemacetan, sejak dimulai pembangunnya lintasan bus khusus itu di beberapa ruasnya.

Pada masa yang sama, kemacetan total hampir tiap hari terjadi di sepanjang Jalan Letjen S Parman dan Jalan Gatot Subroto. Penyebabnya, pembangunan jalur busway Koridor 9 (Pinang Ranti Gede-Pluit) yang juga melintasi ruas jalan yang membelah Jakarta dari arah barat laut ke tenggara itu. Pengerjaan proyek perbaikan ruas jalan tol Jembatan Tiga yang terbakar , juga mengakibatkan tersendatnya lalu lintas di dua arah ruas jalan tol di Jakarta Utara itu.

Kemacetan di jalur-jalur utama itu pun, mengakibatkan masalah yang sama di jalan-jalan yang berhubungan, seperti Jalan Jenderal Sudirman sampai ke Jalan Sisingamangaraja ke arah Blok M, Kebayoran Baru.

Usaha warga untuk menghindari jalur-jalur neraka itu bukannya memperbaiki keadaan. Kemacetan justru meluas ke mana-mana. Jalan-jalan alternatif yang sebelumnya relatif bebas macet, seperti Jalan Kemang Raya, sejak sebulan terakhir, juga selalu dilanda kemacetan, terutama pada jalam-jam berangkat dan pulang kantor.

Dapat dilalui

Hari Minggu kemarin, Gubernur Fauzi Bowo mengumumkan, mulai Senin ini tiga koridor bus cepat massal yang masih dalam taraf pembangunan, yakni Koridor 8, Koridor 9, dan Koridor 10 (Cililitan-Tanjung Priok) dapat dilalui kendaraan pribadi. Tujuannya, untuk mengurangi kemacetan lalu lintas akibat penyempitan ruas jalan.

Namun, dengan tingkat kemacetan yang sudah nyaris tak terperikan, kebijakan dadakan gubernur baru Jakarta itu tidak bakal banyak membawa perubahan pada kondisi lalu lintas Ibu Kota.

Jalan-jalan Jakarta mulai hari ini tetap jadi "neraka" bagi segenap warga penggunanya. (NEL)

Read More...

Sunday, October 21, 2007

Yang protes yang parkir

Warga Pluit Diminta Pahami Rencana Pembangunan Busway

Warga Pluit Jakarta Utara diminta memahami rencana pembangunan Busway Koridor IX (Pinang Ranti-Pluit) sehingga tidak melakukan aksi penolakan atas proyek tersebut. Sebab pembangunan busway ini bukan untuk kelompok masyarakat tertentu namun untuk seluruh warga ibukota.

"Kita tahu ada yang protes, termasuk siapa yang protes dan kepentingannya apa. Saya minta kepada warga bahwa yang kita lakukan ini adalah untuk kepentingan umum," tutur Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Koridor 9 memiliki panjang lintasan 37 kilometer, dengan rute meliputi Terminal Pinang Ranti-Pondok Gede Raya-Raya Bogor-Mayjen Sutoyo-Mt Haryono-Jl Gatot Subroto-S Parman-Prof Latumeten-Jembatan Dua-Jembatan Tiga-Pluit.

Sebelumnya, saat meninjau pembanguan jalur TransJakarta Sabtu (20/10) di kawasan Jalan Raya Pluit, Fauzi melihat adanya sejumlah poster yang berisi penolakan atas pembangunan jalru khusus bus tersebut di seputar taman dekat Mall Pluit.
Warga yang melancarkan protes menempatkan sejumlah pot berisi tanaman di sepanjang jalur TransJakarta yang sedang dibangun. "Saya ingin ingatkan pada para pedagang tanaman di situ bahwa izin yang diberikan adalah izin terbatas. Yang memberikan izin di situ adalah Badan Pengelola Pluit (BP Pluit) yang kini telah menjadi bagian dari PT Jakarta Propertindo," katanya.

Fauzi menambahkan saat ini ada pembicaraan antara PT Jakpro dengan pihak Walikota Jakarta Utara atas hal tersebut. "Sebetulnya yang keberatan ada proyek itu adalah warga yang tidak bisa lagi parkir di seputar taman itu," ujar Fauzi. Oleh karena itu ia meminta pengertian dan pemahaman warga atas rencana pembangunan sarana angkutan umum tersebut. - Mita/Ant. - Jurnal asional

Read More...

Tuesday, September 25, 2007

Peluit pun disemprit

Ikut Tolak Busway
Foke: Warga Pluit Hanya Latah

Penolakan terhadap pembangunan jalur Bus Transjakarta kembali terjadi. Setelah Pondok Indah, warga Pluit Jakarta Utara ikut-ikutan menolak pembangunan Bus Transjakarta ini. Lantas bagaimana komentar Pemprov DKI Jakarta.
"Itu hanya latah. Seharusnya warga melihat dulu jalur yang dipergunakan," kata Wakil Gubernur Fauzi Bowo di Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (24/9/2007).

Menurut Foke, seharusnya warga Pluit harus memikirkan kebutuhan masyarakat secara umum. "Karena tidak semua naik mobil pribadi. Kalau mau ke Mega Mall mereka naik apa dong?" tanya Foke.

Foke menegaskan, untuk pembangunan jalur busway Pluit tidak akan merusak beberapa pepohonan, seperti di wilayah Pondok Indah. "Kalau merasa ekslusif boleh saja, tapi harus pada tempatnya," minta gubernur yang akan dilantik pada Oktober 2007 ini. (ahm) Lisa Antasari - Okezone -

Read More...

Protes warga Pluit

Read More...