Showing posts with label proyek. Show all posts
Showing posts with label proyek. Show all posts

Monday, March 31, 2008

Terganggu sengketa tanah

Pembangunan yang dilakukan di koridor-9 belum seluruhnya selesai. Halte busway Pluit yang terletak didepan Mega Mall Pluit jalan Pluit timur raya, masih jauh dari tahap penyelesaian.

"Untuk halte kedatangan di belakang Mega Mall Pluit arah penjaringan sudah hampir selesai tetapi untuk halte pemberangkatan arah Ancol, baru kami mulai minggu lalu karena terganggu permasalahan sengketa tanah," ujar Udin, 33, salah seorang pekerja halte busway Pluit kepada Media Indonesia.

"Setelah permasalahan sengketa tanah itu diselesaikan, kami baru bisa mengerjakan halte ini itupun masih dalam tahap pembangunan konstruksi beton dan pengelasan," tambah Udin.

Read More...

Friday, March 28, 2008

Jembatan penyeberangan mulai dibangun

Grogol 

Hari ini mulai jam 23.00 hingga Sabtu jam 05.00 lalu lintas di Jalan Latumenten, sekitar halte busway Stasiun Grogol, Jakarta Barat akan ditutup. Di kawasan tersebut akan dilakukan pemasangan erection gelagar jembatan penyeberangan unyuk busway koridor 9 (Pinangranti-Pluit).

Lalulintas dari arah Pluit menuju Cawang dialihkan dari Latumenten melalui Jl DR Muwardi masuk ke Jl DR Makaliwe, dan kembali ke Jl Latumenten. Lalu lintas dari Cawang menuju Pluit diarahkan melalui Jl Latumenten masuk contra flow ke Jl DR Makaliwe lalu melewati putaran dan kembali ke Jl Latumenten.

Pengguna jalan dihimbau untuk menghindari jalan tersebut pada saat pelaksanaan pekerjaan.

Read More...

Monday, March 24, 2008

Rusak sebelum berguna

Menurut Kepala Seksi Struktur Jalan Sub Dinas Jalan DPU DKI Jakarta, Hasmil HS Sasrie, perbaikan koridor IX dilaksanakan oleh PT Jaya Konstruksi MP dan PT Lampiri Jaya Abadi-JO.

Perbaikan di 13 lokasi yang mencapai 5.013,16 meter persegi diantaranya Jl Gatot Subroto depan Menara Jamsostek 958,60 meter persegi, depan Hero 560 meter persegi, seberang depan Menara Hijau sebelum stasiun KA Cawang 27,30 meter persegi. [dari beritajakarta.com]

Read More...

Friday, March 14, 2008

Dana Busway dikembalikan ke APBD

Meski belum selesai dibahas di Departemen Dalam Negeri (Depdagri), sejumlah poin perubahan dalam APBD DKI Jakarta 2008 telah mencuat.

Salah satunya adalah anggaran penyelesaian busway koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni), IX (Pinang Ranti-Pluit) dan X (Cililitan-Tanjung Priok) yang dipotong Rp158 miliar oleh DPRD, dikembalikan menjadi Rp354 miliar sesuai usulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Dana busway itu adalah salah satu dari ribuan item yang diputuskan untuk tidak jadi dicoret oleh Depdagri. "Totalnya (anggaran yang dikembalikan) sekitar Rp1,2 triliun. Sebagian besar itu dedicated program (program prioritas) yang mencapai Rp800 miliar," kata Asisten Keuangan Pemprov DKI Jakarta Hari Sandjojo di Balai Kota, Jumat (14/3).

Total anggaran untuk dedicated program mencapai Rp3,52 triliun. Beberapa item lain yang juga dikembalikan karena dinilai penting dan tidak patut dicoret antara lain subsidi Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta sebesar Rp263 miliar (sebelumnya dipangkas Rp63 miliar), pembebasan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) senilai Rp52,87 miliar, Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) SMA dan SMK swasta senilai Rp157,7 miliar (sebelumnya dicoret), serta sistem lelang online (e-procurement).

"Ini adalah hasil pembicaraan Pemprov DKI dengan DPRD yang difasilitasi Depdagri. Anggaran-anggaran itu dikembalikan karena untuk kepentingan publik," jelas Hari.

Sebagian dari kebutuhan anggaran yang dikembalikan itu diambil dari tambahan anggaran pendapatan yang disusulkan Pemprov DKI berdasarkan asumsi penerimaan pajak dan retribusi sebesar Rp500 miliar. "Jadi tidak ada alokasi-alokasi lain yang dipotong-potong lagi. Diminimalisir," imbuhnya.

Sekretaris Komisi B DPRD DKI Nurmansjah Lubis kepada Media Indonesia mengakui akhirnya menerima sejumlah alokasi itu dikembalikan. "Ya kita ikuti, Gubernur ingin agar program busway koridor VIII, IX, X tidak mubazir, jadi harus diselesaikan karena menyangkut kepentingan publik," ujar politisi PKS yang sebelum bersikeras sejumlah anggaran dedicated program harus dibatalkan.

Lebih lanjt Hari mengatakan, tenggat pembahasan APBD DKI 2008 adalah 24 Maret 2008. "Tapi kita akan kejar sebelum itu. Jikapun turun pada 24 Maret, satu minggu setelahnya, pencairan sudah bisa jalan, itupun jika tidak ada perubahan atau catatan dari Depdagri," pungkasnya. [Media Indonesia - Depdagri Kembalikan Dana Busway ke APBD - Reporter : Bagus BT. Saragih]

Read More...

Sunday, January 27, 2008

Halte Angke

Saya tinggal di daerah yang akan dilalui Koridor IX Pinang Ranti - Pluit.
Dan saya lihat sudah ada aktivitas pembangunan halte. Yang saya cermati, selepas Grogol, Jalan Latumeten, sudah disiapkan jalur busway, melewati jalan layang, tanpa seperator, melewati perempatan Angke.
Akan tetapi, sedang dibangun pula halte busway di kolong jalan layang tersebut, dengan nama Halte Angke.
Hmm....?
Apakah halte ini akan dibangun setinggi jalan layang tersebut, di mana jalan layang ini tidak diberi seperator busway ? [sunarto rusli di suaratransjkarta]

Read More...

Saturday, December 15, 2007

Baut pembawa maut

Separator yang dipasangi baut di koridor 8-10, harus diganti dengan model yang lebih kuat tanpa baut. Separator berbaut mudah rusak begitu disenggol roda kendaraan, bautnya yang menonjol bisa merobek roda dan membahayakan pengendaranya.

”Harus diganti dengan model lama, yang sudah terbukti lebih kuat. Separator baru yang dipasang dengan cara dibaut seperti itu, kalau sekadar untuk bereksperimen boleh saja, tetapi jangan dipakai,” kata Direktur Eksekutif Institut Transportasi atau Intrans Jakarta, Darmaningtyas, pada Kompas Sabtu (15/12).

Separator koridor 1-7 jika terlindas roda kendaraan tidak pecah, tidak mudah tercabut. Sepatator model baru di koridor 8-10 lebih lunak sehingga mudah hancur. Dipasang dengan cara dibaut ke beton lajur busway.

Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemprov DKI Jakarta, Budi Widiantoro mengakui separator itu cepat rusak karena belum cukup umur untuk dipasang. Kontraktornya terburu-buru. Seharusnya separator dipasang 28 hari setelah dicor. Seluruh separator yang rusak itu akan diperbaiki dengan cara dicor di tempat. Juga dipasang alat pengaman agar separator tidak sampai terlindas atau tersenggol kendaraan.

Read More...

Friday, December 7, 2007

Karena tidak diantisipasi

Busway Koridor IX dan X Rusak Sebelum Digunakan

Kondisi prasarana jalur khusus bus transjakarta (busway) di Koridor IX dan X saat ini sudah rusak sebelum pekerjaan proyek rampung, atau sebelum diresmikan penggunaannya. Bagian yang rusak itu antara lain separator dan juga badan jalan jalur khusus bus yang telah dibentangi aspal.

Kepala Subdinas Jalan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Sukendar, ketika dihubungi, Kamis (6/12), membenarkan adanya persoalan itu. Dia mengaku sempat terkejut ketika melihat sendiri fakta itu. "Tetapi akan kami perbaiki segera. Saya segera berkoordinasi dengan pihak kontraktor pelaksana," katanya.

Dari pengamatan di lapangan, hampir semua separator di ruas Tomang menuju Slipi hancur berantakan. Tampaknya beton yang dipasang sebagai separator itu tidak kuat sehingga begitu tersenggol bus dan truk, bahkan minibus, langsung pecah berderai. Tinggal baut-baut yang menonjol di jalan beraspal beton itu.

Sukendar mengakui sudah melihat kondisi lapangannya dan memang ada kerusakan separator. Separator yang terpasang di sepanjang Koridor IX Pinang Ranti-Pluit itu terdiri atas dua jenis, yakni yang ditanam serta yang dibor dan dibaut seperti di ruas Tomang-Slipi.

Separator jenis kedua ini, kata Sukendar, memang hanya dipasang di ruas jalan reguler yang telah dibentangi beton. Pada ruas seperti itu, jalur bus transjakarta tidak perlu dibangun baru, hanya diberi pembatas atau separator yang dibaut dengan paku baja sebab tidak mungkin membongkar beton lama untuk dipasangi separator. Ternyata, di luar dugaan, separator itu cepat hancur ketika tersenggol kendaraan.

Kompas juga mengamati, ruas bus transjakarta di Koridor X pun sudah terancam retak-retak, terutama di sepanjang Jalan Yos Sudarso dan sebagian Jalan Enggano. Hal itu terjadi karena dua minggu setelah dipasangi beton, ruas tersebut langsung dilalui trailer dan angkutan berat lainnya. Padahal, kapasitas jalan itu untuk bus transjakarta.
(CAL/ECA)
Jakarta, Kompas

Read More...

Monday, October 22, 2007

Setelah Lebaran macet lagi

Hari Ini, Jalan-jalan di Jakarta Kembali Jadi "Neraka"

mulyawan karim

Setelah sepekan relatif sepi dan nyaman dilintasi, mulai hari ini lalu-lintas di Ibu Kota dapat dipastikan akan kembali padat. Kenikmatan berkendara selama lebih dari seminggu saat libur Lebaran, berakhir sudah. Wajah Jakarta akan kembali seperti semula.

Minggu (21/10) malam, di Jalan Panjang, dekat persimpangan Jalan Kebayoran Lama, di ruas jalan arah Kedoya, Jakarta Barat, belasan pekerja tampak sibuk menyiapkan pengecoran jalur khusus bus transjakarta. Di ujung ruas jalan itu berdiri panel papan peringatan: "Hati-hati, Ada Pembangunan Busway".

Setiap pengendara sepeda motor atau mobil memang harus berhati-hati, kalau tak mau menabrak papan pembatas pengecoran yang tiba-tiba muncul di tengah jalan itu.

Setidaknya ada empat titik di sepanjang Jalan Panjang, lokasi dilaksanakannya kembali proyek pembangunan busway mulai Minggu (21/10). Kesibukan serupa juga terlihat di Jalan Layang Putri Hijau, Permata Hijau, di ruas arah Jalan Sultan Iskandar Muda. Dua lokasi lain ada di daerah Kedoya.

"Panjang jalur busway yang sedang dikerjakan di masing-masing lokasi 150 meter-200 meter. Pengecoran di semua lokasi rencananya akan dilakukan malam ini," kata Heri Kuswoyo (34), petugas PT Yasa Patria Perkasa, kontarktor pembangunan jalur busway itu, saat ditemui di lokssi proyek di simpang Jalan Panjang-Jalan Kebayoran Lama, Minggu malam.

Kegiatan pembangunan ini membuat ruas jalan yang sehari sebelumnya terdiri atas tiga lajur, sejak kemarin menyempit menjadi hanya dua lajur. Hailnya, kemacetan panjang di beberapa tempat di Jalan Panjang.

Padahal volume kendaraan yang melintas belum seperti hari-hari sebelum Lebaran lalu. Ruas jalan itu hanya dilalui kendaran umum serta mobil dan sepeda motor pemudik yang baru masuk lagi ke Ibu Kota dari arah barat.

Bisa dibayangkan kondisi lalu-lintas hari ini di jalan itu. Padahal tanpa pembangunan jalur busway pun sudah biasanya sudah biasa macet.

Makin parah

Pembagunan jalur busway Koridor 8 (Lebak Bulus-Harmoni) itu, sebenarnya hanya menyempurnakan kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas yang sudah terjadi di Jakarta sejak sekitar sebulan terakhir, sejak dimulainya pembangunan tiga koridor jalur busway secara simultan di berbagai bagian kota. Jalan Panjang pun sudah berminggu-minggu selalu dilanda kemacetan, sejak dimulai pembangunnya lintasan bus khusus itu di beberapa ruasnya.

Pada masa yang sama, kemacetan total hampir tiap hari terjadi di sepanjang Jalan Letjen S Parman dan Jalan Gatot Subroto. Penyebabnya, pembangunan jalur busway Koridor 9 (Pinang Ranti Gede-Pluit) yang juga melintasi ruas jalan yang membelah Jakarta dari arah barat laut ke tenggara itu. Pengerjaan proyek perbaikan ruas jalan tol Jembatan Tiga yang terbakar , juga mengakibatkan tersendatnya lalu lintas di dua arah ruas jalan tol di Jakarta Utara itu.

Kemacetan di jalur-jalur utama itu pun, mengakibatkan masalah yang sama di jalan-jalan yang berhubungan, seperti Jalan Jenderal Sudirman sampai ke Jalan Sisingamangaraja ke arah Blok M, Kebayoran Baru.

Usaha warga untuk menghindari jalur-jalur neraka itu bukannya memperbaiki keadaan. Kemacetan justru meluas ke mana-mana. Jalan-jalan alternatif yang sebelumnya relatif bebas macet, seperti Jalan Kemang Raya, sejak sebulan terakhir, juga selalu dilanda kemacetan, terutama pada jalam-jam berangkat dan pulang kantor.

Dapat dilalui

Hari Minggu kemarin, Gubernur Fauzi Bowo mengumumkan, mulai Senin ini tiga koridor bus cepat massal yang masih dalam taraf pembangunan, yakni Koridor 8, Koridor 9, dan Koridor 10 (Cililitan-Tanjung Priok) dapat dilalui kendaraan pribadi. Tujuannya, untuk mengurangi kemacetan lalu lintas akibat penyempitan ruas jalan.

Namun, dengan tingkat kemacetan yang sudah nyaris tak terperikan, kebijakan dadakan gubernur baru Jakarta itu tidak bakal banyak membawa perubahan pada kondisi lalu lintas Ibu Kota.

Jalan-jalan Jakarta mulai hari ini tetap jadi "neraka" bagi segenap warga penggunanya. (NEL)

Read More...

Sunday, October 21, 2007

Yang protes yang parkir

Warga Pluit Diminta Pahami Rencana Pembangunan Busway

Warga Pluit Jakarta Utara diminta memahami rencana pembangunan Busway Koridor IX (Pinang Ranti-Pluit) sehingga tidak melakukan aksi penolakan atas proyek tersebut. Sebab pembangunan busway ini bukan untuk kelompok masyarakat tertentu namun untuk seluruh warga ibukota.

"Kita tahu ada yang protes, termasuk siapa yang protes dan kepentingannya apa. Saya minta kepada warga bahwa yang kita lakukan ini adalah untuk kepentingan umum," tutur Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Koridor 9 memiliki panjang lintasan 37 kilometer, dengan rute meliputi Terminal Pinang Ranti-Pondok Gede Raya-Raya Bogor-Mayjen Sutoyo-Mt Haryono-Jl Gatot Subroto-S Parman-Prof Latumeten-Jembatan Dua-Jembatan Tiga-Pluit.

Sebelumnya, saat meninjau pembanguan jalur TransJakarta Sabtu (20/10) di kawasan Jalan Raya Pluit, Fauzi melihat adanya sejumlah poster yang berisi penolakan atas pembangunan jalru khusus bus tersebut di seputar taman dekat Mall Pluit.
Warga yang melancarkan protes menempatkan sejumlah pot berisi tanaman di sepanjang jalur TransJakarta yang sedang dibangun. "Saya ingin ingatkan pada para pedagang tanaman di situ bahwa izin yang diberikan adalah izin terbatas. Yang memberikan izin di situ adalah Badan Pengelola Pluit (BP Pluit) yang kini telah menjadi bagian dari PT Jakarta Propertindo," katanya.

Fauzi menambahkan saat ini ada pembicaraan antara PT Jakpro dengan pihak Walikota Jakarta Utara atas hal tersebut. "Sebetulnya yang keberatan ada proyek itu adalah warga yang tidak bisa lagi parkir di seputar taman itu," ujar Fauzi. Oleh karena itu ia meminta pengertian dan pemahaman warga atas rencana pembangunan sarana angkutan umum tersebut. - Mita/Ant. - Jurnal asional

Read More...

Tuesday, September 25, 2007

Peluit pun disemprit

Ikut Tolak Busway
Foke: Warga Pluit Hanya Latah

Penolakan terhadap pembangunan jalur Bus Transjakarta kembali terjadi. Setelah Pondok Indah, warga Pluit Jakarta Utara ikut-ikutan menolak pembangunan Bus Transjakarta ini. Lantas bagaimana komentar Pemprov DKI Jakarta.
"Itu hanya latah. Seharusnya warga melihat dulu jalur yang dipergunakan," kata Wakil Gubernur Fauzi Bowo di Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (24/9/2007).

Menurut Foke, seharusnya warga Pluit harus memikirkan kebutuhan masyarakat secara umum. "Karena tidak semua naik mobil pribadi. Kalau mau ke Mega Mall mereka naik apa dong?" tanya Foke.

Foke menegaskan, untuk pembangunan jalur busway Pluit tidak akan merusak beberapa pepohonan, seperti di wilayah Pondok Indah. "Kalau merasa ekslusif boleh saja, tapi harus pada tempatnya," minta gubernur yang akan dilantik pada Oktober 2007 ini. (ahm) Lisa Antasari - Okezone -

Read More...

Protes warga Pluit

Read More...

Friday, September 21, 2007

Pelaksanaan tanpa manajemen?

Macet

Pembangunan Busway Koridor IX (Cililitan-Pluit) dan Koridor X (Cililitan-Tanjung Priok) masing-masing sepanjang 15 km, terus dilakukan secara intensif oleh Pemprov DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso sepertinya berusaha menepati janjinya untuk menyelesaikan jalur busway hingga Koridor X, sebelum meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta

Namun, sempitnya ruas jalan yang dilalui menimbulkan kemacetan parah di sejumlah titik. Di perempatan Prumpung, Jl Ahmad Yani misalnya, jalur yang mengarah ke Tanjung Priok macet parah. Betonisasi di lajur kanan jalan menghasilkan bottle neck yang menyebabkan tersendatnya arus kendaraan. Jalan yang biasanya terdiri dari empat lajur, saat ini menjadi sekitar 2,5 lajur saja.

Kemacetan parah juga terjadi karena perempatan Prumpung merupakan titik temu kendaraan yang melaju dari arah UKI Cawang dan arah Bekasi. "Parah Mas macetnya, biasanya UKI-Prumpung cukup 20 menit, sekarang menjadi 40 menit," ujar Wawan, warga Cililitan yang hendak ke Tanjung Priok. Menurut Wawan, kemacetan terjadi sepanjang tujuh kilometer.

Kemacetan parah juga terjadi di perempatan Cempaka Putih karena ada dua pekerjaan berbarengan di sana, yakni pembangunan fly over yang belum selesai hingga sekarang ditambah pembangunan Busway Koridor X. "Kalau bisa, pembangunannya jangan memakan waktu terlalu lama, kemacetannya cukup parah," harap Hartono warga Cipinang yang hendak ke Sunter.

Gubernur Sutiyoso meminta masyarakat memaklumi dampak kemacetan yang timbul akibat pembangunan sejumlah koridor busway. Menurut Sutiyoso, saat ini busway telah menjadi primadona angkutan warga Ibukota. Kalau pembangunan tiga koridor busway itu dapat dilaksanakan pada tahun ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian di Jakarta.

Seperti diketahui, pembangunan jalur Busway Koridor VIII (Pondok Indah-Harmoni), IX (Cililitan-Pluit), dan X (Cililitan-Tanjung Priok) pada tahun 2007 diperkirakan menghabiskan anggaran Rp 300 miliar. Jalur Busway Koridor VIII sepanjang 18 km, Koridor IX 15 km, dan Koridor X 15 km.

Koridor VIII trayeknya meliputi Pondok Indah via jembatan layang Permata Hijau- Jalan Panjang-Jalan Daan Mogot (Grogol)-Harmoni Central Busway. Sedangkan Koridor IX melewati Cililitan-Letjen Sutoyo-MT Haryono-Gatot Subroto-Semanggi-Grogol-Pluit. Untuk Koridor X melewati Cililitan-Letjen Sutoyo-DI Panjaitan-A Yani-Yos Sudarso-Tanjung Priok. [SUARA PEMBARUAN]

Read More...

Thursday, September 20, 2007

Rute koridor 9

Dinas Perhubungan DKI Jakarta merencanakan ketiga koridor baru yang akan menggenapi koridor TransJakarta yang ada dan sudah dapat dioperasikan pada awal 2008 sehingga di Jakarta terdapat 10 koridor TransJakarta.

Koridor IX memiliki panjang lintasan 29,9 kilometer, dengan rute meliputi Terminal Pinang Ranti-Pondok Gede Raya-Raya Bogor-Mayjen Sutoyo-MT Haryono-Jl Gatot Subroto-S Parman-Prof Latumeten-Jembatan Dua-Jembatan Tiga-Pluit. [antara - is]

Read More...

Tuesday, September 11, 2007

Pilihan pertama di depan Mal Pluit?

Pembangunan Koridor IX dan X Dimulai

Seiring selesainya tender proyek bus Transjakarta koridor VIII, IX, dan X, pembangunan jalur khusus di koridor X dan IX dimulai. Pembangunan pada koridor X, Cililitan-Tanjung Priok, itu dimulai pada ruas Jalan DI Panjaitan, tepatnya di Prumpung, dengan perkerasan jalan.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Wisnu Subagyo Yusuf, Selasa (11/9) di Jakarta Pusat, pembangunan koridor X juga dilakukan di Jalan Enggano dengan penggalian jalan untuk kemudian diperkeras. Proses penggalian dan perkerasan itu diperkirakan akan berlangsung antara dua sampai empat minggu.

Sementara itu, pembangunan koridor IX, Pinangranti-Pluit, juga sudah dimulai dengan perkerasan jalan di depan Mal Pluit. Pekerjaan penggalian dan perkerasan jalan itu menyebabkan kemacetan yang panjang di sekitar lokasi proyek.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nurachman, mengatakan, pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi-lokasi proyek itu sudah dilakukan oleh para petugas Dishub tetapi hasilnya tidak akan maksimal. Kemacetan panjang akan tetap terjadi karena penyempitan badan jalan untuk pembangunan itu tidak terhindarkan.

”Jalan Enggano dan Tanjung Priok akan sangat macet karena badan jalan sempit. Kami sudah meminta ke Dinas PU agar pengecoran jalan dilakukan di malam hari karena seringkali harus menutup jalan secara total,” kata Nurachman.

Sementara itu, pembangunan di koridor VIII, Lebak Bulus-Harmoni masih belum dapat dilaksanakan karena badan jalan di Jalan Panjang, Simprug, Iskandar Muda, dan Pondok Indah sempit. Selain itu, pembangunan di koridor itu akan memerlukan banyak penebangan pohon dan penolakan warga masih sangat kuat.

Pembangunan di koridor VIII akan dilakukan jika semua persiapan sudah matang sehingga risiko mengecil. Emilius Caesar Alexey KOMPAS-

Read More...

Sunday, June 24, 2007

Jalur alternatif

Dinas Perhubungan DKI Jakarta memetakan sedikitnya 35 ruas jalan Ibu Kota sebagai jalur alternatif terkait pembangunan Bus Way Koridor VIII, IX dan X pada bulan Juli. “Ruas jalan tempat dibangunnya busway tetap dibuka, tapi penguna jalan bisa menggunakan jalur alternatif itu, ” kata Kepala Sub Dinas Tehnik Lalu Lintas Dinas Perhubungan M Akbar di Jakarta akhir pekan lalu (22/06).

Saat pembangunan Koridor IX (Pinang Ranti - Pluit) warga bisa menggunakan jalur alternatif Jalan Lubang Buaya, Jalan Setu dan Jalan Bambu Apus. Antara Cawang – Kuningan yaitu Jalan Oto Iskandar Dinata dan Casablangka. Antara Semanggi-Slipi yaitu Jalan Penjernihan, KS Tubun, KH Mas Mansyur dan DR Satrio. Antara Grogol – Pluit yaitu, Jalan Daan Mogot, Tubagus Angke, Kampung Gusti, Bandengan dan Jalan Gedung Pejuang.

Read More...

Thursday, April 5, 2007

Koridor 8-10 mula dibangun

Pembangunan fisik busway koridor 8 sampai 10 mulai dilaksanakan Juni 2006. Pada akhir tahun ini ditargetkan rampung sehingga pada 2008 masyarakat dapat menikmati perjalanan dengan bus tanpa hambatan itu di sepuluh koridor.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Ritola Tasmaya, mengatakan pembangunan jalur bus TransJakarta untuk koridor 8 (Lebak Bulus-Harmoni), 9 (Pinang Ranti-Pluit), dan 10 (Cililitan-Tanjung Priok) sudah pasti berjalan. Hambatan yang sempat mengakibatkan koridor 8 tidak jadi dibangun tahun ini dikatakannya dapat diatasi.

Sebelumnya memang Komisi D DPRD DKI Jakarta meminta penangguhan pembangunan koridor 8. Alasannya di Arteri Pondok Indah, yang akan dilewati busway koridor 8, sedang dibangun under pass. Pembangunan under pass dan busway dikhawatirkan menambah kemacetan sehingga merugikan pengguna jalan.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Nurachman, menjelaskan hambatan di koridor 8 diatasi dengan pembangunan berkonsep simultan. Artinya, dilakukan dulu pembangunan under pass baru merampungkan jalur fisik busway yang berada di bawah tanah itu. "Nanti kalau under pass jadi tinggal ditambah separator saja," ujar dia, Rabu (4/4).

Anggaran pembangunan busway sebesar Rp 180 miliar merupakan tanggung jawab Dinas Perhubungan. Tugas dinas ini antara lain menyediakan separator jalan, jembatan penyeberangan orang, dan halte. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Wisnu Subagyo Yusuf, menambahkan dana pembangunan fisik untuk tiga koridor itu akan menghabiskan APBD sebesar Rp 350 miliar. Rinciannya Rp 123 miliar untuk koridor 8, Rp 106 miliar bagi koridor 9, dan Rp 97 miliar untuk koridor 10.

Dinas PU sedang melakukan proses lelang bagi kontraktor pembangunan fisik busway. "Nanti kontraktor setiap koridor akan berbeda-beda," kata Wisnu. Dengan tiga koridor baru, total panjang jalur busway nanti menjadi 162,95 kilomter.

Keputusan mengenai pembangunan tiga koridor busway merupakan hasil pertemuan pimpinan dewan dengan gubernur DKI Jakarta. "Gubernur memang minta supaya koridor 8 tetap dibangun," ujar Ketua DPRD DKI Jakarta, Ade Surapriatna. Menurut gubernur, penangguhan pembangunan koridor 8 akan menghambat rencana jaringan busway secara keseluruhan.

Namun persetujuan DPRD dibarengi dengan catatan bagi Dinas Perhubungan. Ade mengatakan Dinas Perhubungan harus mencari solusi pengalihan lalu lintas untuk menghindari kemacetan. ''Nanti pelaksanaannya kita lihat, bila timbul masalah tentu akan ada evaluasi lebih lanjut."

Koridor 8 bakal beroperasi di jalur sepanjang 26 kilometer. Rencananya koridor 8 dilengkapi dengan 17 titik halte. Koridor ini dimulai di Terminal Lebak Bulus melalui Jalan Metro Pondok Indah kemudian Jalan Panjang berlanjut ke Daan Mogot, S Parman, dan berakhir di Harmoni.

Sedang koridor 9 berjalan sepanjang 29,9 kilometer dengan 24 titik halte. Berawal di Terminal Pinang Ranti berlanjut ke Jalan Raya Bogor, Mayjend Sutoyo, MT Haryono, Gatot Subroto, S Parman, Prof Latumeten, Jembatan Tiga, dan berakhir di Pluit.

Terakhir adalah koridor 10 dengan panjang 19 kilometer. Koridor yang paling pendek diantara dua koridor baru lainnya direncanakan memiliki 15 titik halte. Bus TransJakarta di koridor 10 ini melaju dari Cililitan melewati Mayjend Sutoyo, DI Panjaitan, Ahmad Yani, Yos Sudarso, Enggano, dan terakhir di Terminal Tanjung Priok. ind Republika Online

Fakta Angka

Rp 350 miliar
Biaya untuk pembangunan fisik tiga koridor busway

Read More...